Friday, April 22, 2011

Jadi orang EGOIS banget sih!!!

Judul di atas pasti sering kita dengar. Hampir tiap orang pasti pernah mengatakan kalimat itu. Uniknya, justru pengucap kalimat itu sendiri adalah sang egois sejati. Siapa sih di muka bumi ini yang ga pernah egois? Ayo ngaku kalo ada!!Kenapa orang bisa mengatakan hal itu? Kenapa orang bisa dikatain seperti itu? Yuk dibahas.



EGOIS


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, EGOIS adalah:


ego.is


[n] (1) Psi orang yg selalu mementingkan diri sendiri; (2) Fil penganut teori egoisme;


Sedangkan kata egois sendiri pertama kali diasaskan oleh Friedrich Wilhelm Nietche yang merupakan seorang pengkritik utilitarianisme dan menentang teori kemoralan sosial. Dimana teori egoisme ini berprinsip bahwa setiap orang mesti bersifat keakuan, yaitu melakukan sesuatu yang bertujuan untuk memberikan keuntungan bagi diri sendiri. Dan juga, setiap perbuatan yang memberikan keuntungan merupakan perbuatan yang baik dan merupakan perbuatan yang buruk jika melakukan sesuatu yang merugikan diri sendiri.

Gampangnya, egois itu adalah suatu perasaan atau rasa di mana kita hanya "mau" melihat dari satu sisi aja, yaitu sisi kita sendiri, dan mengabaikan sisi yang lainnya. Gampangnya lagi, egois itu adalah sebuah sikap di mana kita hanya mementingkan kesenangan kita sendiri tanpa memikirikan atau melihat orang lain di sekitar kita. Bodo amat tuh orang mau kecewa, sakit hati, marah, sedih, pokoknya kita harus senang. Orang yang egois itu adalah orang yang selalu mengedepankan keinginannya di atas keinginan orang lain. Orang egois tidak bisa memahami pikiran dan perasaan orang lain, padahal di lain pihak orang egois "selalu" menuntut agar orang lain bisa mengerti dirinya terlebih dahulu. Selalu berharap orang lain "mau" mengerti dirinya terlebih dahulu. Selalu menuntut untuk diikuti semua pendapat dan keinginannya. Sungguh tidak menyenangkan kalo bertemu orang macam ini.


Tapi sebenernya, tiap manusia di muka bumi ini PASTI memiliki sifat egois. Tapi dijamin deh, ga bakal ada manusia di muka bumi ini yang rela disebut egois. Egois itu udah bawaan orok tiap manusia. Tidak ada manusia yang lahir tanpa ego. Cuma, kadar keegoisan tiap orang itu berbeda. Berbeda karena kemampuan mengendalikan keegoisan dalam tiap pribadi masing-masing. Ada orang yang memiliki kemampuan mengendalikan diri dan mengendalikan keegoisannya dan ada yang tidak - yang belakangan seringkali kita kategorikan sebagai orang yang egois. Dan ternyata, usia tidak bisa menjamin kadar keegoisan seseorang. Bisa aja makin tua makin egois (karena merasa paling tua) atau makin tua makin bijak. Bila saja kita bertemu seseorang dan menganggap orang itu sama sekali tidak egois, itu murni hanya karena orang tersebut mampu mengendalikannya.


Ada banyak cara untuk mengendalikan sifat egois dalam diri kita, tapi tidak akan saya bahas di sini karena saya bukan ahlinya dan saya masih sering merasa egois terhadap sekeliling saya. Masih sering menindas orang lain hanya untuk kepentingan pribadi.


Seringkali kita memvonis orang lain egois, tetapi kita tidak sadar bahwa kita sendiri sebenarnya sedang memamerkan keegoisan kita. Ketika kita merasa ego kita disentuh oleh orang lain, di saat itu pula kita akan menjadi egois. Contoh paling gampang adalah soal rokok. Pro kontra perokok tidak akan pernah habis karena tiap orang merasa punya hak, yaitu hak untuk tidak kena asap rokok dan hak untuk tetap merokok. Orang yang tidak merokok akan merasa terganggu ketika mulai mencium aroma rokok dari perokok, dan (biasanya) otomatis akan menegur si perokok.


Saya punya pengalaman pribadi kalo untuk yang satu ini. Beberapa waktu lalu di sebuah mall di surabaya, saya dan saudara saya sedang menunggu mobil di area tunggu vallet. Ketika saya datang ke area itu, tidak ada siapa-siapa dan seperti biasa saya langsung menyalakan rokok. Itung-itung balas dendam karena di dalam mall sama sekali tidak boleh merokok dan kebetulan area tunggu mobil itu adalah tempat terbuka dan udara mengalir dengan lancar. Ketika sedang enak-enak merokok, tiba-tiba ada seorang anak muda datang dan menyapa saya. Begini kira-kira percakapan waktu itu:

Anak muda (AM) dan saya (S):


AM : Maaf pak, saya mohon untuk tidak merokok di sini soalnya mama saya sedang perawatan dan tidak boleh kena asap rokok sama sekali.

S : Hah? Maksudmu?


AM : Iya, pak maaf banget, itu mama saya sedang duduk di kursi (sambil menunjuk mamanya yang sedang duduk di kursi tunggu dan sedang menggunakan alat bantu pernapasan lengkap dengan dua tabung oksigennya).


S : Dalam hati, sial nih orang, udah tau orang lagi ngerokok di sini malah duduk deket sini. Udah gitu nganggur amat ya, jelas-jelas lagi sakit and mesti bawa tabung oksigen ke mana-mana masih aja gatel pingin ke mall. Mbok yo istirahat di rumah.


Akhirnya dengan agak dongkol saya pun mengalah dan mematikan rokok saya yang baru habis setengah. Setelah saya mematikan rokok, anak muda itu menghampiri saya lagi dan mengucapkan terima kasih. Pertimbangan saya waktu itu murni hanya karena anak muda itu meminta saya dengan sangat sopan dan mengucapkan terima kasih. Coba kalo mintanya agak sengak, habis deh kena congor saya tuh anak.


Ada juga pertanyaan seperti ini: Cewek atau cowok sih yang lebih egois??


Jawabannya; SAMA SAJA.


Kok bisa? Pikir aja sendiri.


Masih banyak lagi contoh tentang keegoisan kita sebagai makhluk penghuni bumi tercinta ini (mentang-mentang sekarang hari bumi hehehe). Saya yakin semua yang membaca tulisan saya ini bisa memberi contoh paling tidak satu. Kalaupun anda akan memberi contoh, bisakah anda memberi contoh keegoisan anda sendiri dan BUKAN keegoisan orang lain?


Pepatah kuno mengatakan ketika kita menunjuk orang dengan telunjuk kita, sisa jari itu akan menunjuk balik ke arah kita. Jadi teman-teman, ketika anda dan saya mulai menunjuk orang lain itu sebagai pribadi yang egois, alangkah baiknya kita memikirkan hal itu terlebih dahulu. Karena sekali lagi, ketika kita menuduh orang lain sebagai pribadi yang egois, secara tidak sadar kita sedang MEMAMERKAN keegoisan kita.


Jadi, marilah kita mulai sama-sama belajar untuk berhenti mengatakan orang lain egois karena hal itu tidak layak keluar dari mulut kita semua sebab kita semua juga egois!


Marilah kita sama-sama belajar untuk menempatkan diri kita di posisi orang itu. Sebab mungkin saja kita akan melakukan hal yang sama ketika kita berada di posisi orang tersebut.




Sumber: banyaaaakkk

Wednesday, April 13, 2011

Sudahlah, maafkan saja!!!


Bayangkan Anda sedang menghadiri pesta yang amat meriah. Semua orang tampil dengan pakaian terbaik. Makanan yang dihidangkanpun tampak lezat dan mengundang selera. Saat Anda antre untuk mengambil makanan, tiba-tiba seseorang yang sangat Anda percaya berbisik di telinga Anda, ”Hati-hati, banyak makanan tak halal disini, bahkan ada beberapa yang beracun!”


Saya berani menjamin Anda akan mengurungkan niat mengambil makanan. Boleh jadi Anda pun langsung pulang ke rumah. Anda benar, hanya orang bodohlah yang mau menyantap makanan tersebut. Kita tak mau makan sembarangan. Kita sangat peduli pada kesehatan kita.


Anehnya, kita sering — bahkan dengan sengaja — memasukkan ”makanan-makanan beracun” ke dalam pikiran kita. Kita tak sadar bahwa inilah sumber penderitaan kita. Salah satu makanan yang paling berbahaya tersebut bernama: ketidakmauan kita untuk memaafkan orang lain!


Ketidakmauan memaafkan adalah penyakit berbahaya yang menggerogoti kebahagiaan kita. Kita sering menyimpan amarah. Kita marah karena dunia berjalan tak sesuai dengan kemauan kita. Kita marah karena pasangan, anak, orang tua, atasan, bawahan, rekan kerja, dan sahabat kita tak melakukan apa yang kita inginkan. Lebih parah lagi, kita memendam kemarahan ini berhari-hari, bahkan bertahun-tahun.


Memang banyak sekali kejadian yang memancing emosi kita. Pengendara motor yang memaki kita, mobil yang menyalib dan hampir membuat kita celaka, orang yang membobol ATM kita, politisi yang hanya memperjuangkan perutnya sendiri, maupun dikhianati sahabat kita. Kita mungkin berpikir bahwa orang-orang tak tahu diri ini sudah sepantasnya kita benci. Tapi kita lupa bahwa kebencian yang kita simpan hanyalah merugikan kita sendiri.


Penelitian menunjukkan ketidakrelaan memaafkan orang lain memiliki dampak hebat terhadap tubuh kita: menciptakan ketegangan, mempengaruhi sirkulasi darah dan sistem kekebalan, meningkatkan tekanan jantung, otak dan setiap organ dalam tubuh kita. Kemarahan yang terpendam mengakibatkan berbagai penyakit seperti pusing, sakit punggung, leher, dan perut, depresi, kurang energi, cemas, tak bisa tidur, ketakutan, dan tak bahagia.


Baru-baru ini saya sendiri mengalami sendiri apa yang disebut di atas "Tidak Memaafkan". Tiap hari saya berpikir apa layak orang itu dimaafkan ? Ternyata kecongkakan dan ketinggian gati seseorang bisa membuat semua berjalan lebih tidak karuan. Akibatnya, hidup hanya dipenuhi kebencian dan ketidakdamaian. Hidup yang semestinya bisa dibuat cerah, tetapi secara tidak sengaja justru dibuat mendung selalu. Ujung-ujungnya hidup tidak bahagia.



Untuk mencapai kebahagiaan, kita perlu mengubah cara pandang kita. Sumber kebahagiaan ada dalam diri kita sendiri, bukan di luar. Karena itu jangan terlalu memusingkan perilaku orang lain. Sebaliknya, belajarlah memaafkan. Kunci memaafkan adalah memahami ketidaktahuan. Banyak orang yang melakukan kesalahan karena ketidaktahuan. Kalaupun mereka sengaja melakukannya, itupun karena mereka sebenarnya tak tahu. Mereka tak tahu bahwa kejahatan bukanlah untuk orang lain tetapi untuk mereka sendiri.


Orang yang suka memaki dan bersikap kasar sebenarnya tak menyadari bahwa mereka sedang menzalimi dirinya sendiri. Suatu ketika ia akan kena batunya. Inilah konsekuensi logis dari hukum alam.


Mempraktikkan konsep memaafkan akan membuat hidup lebih ringan. Untuk mencapai kebahagiaan, berikanlah maaf kepada orang lain. Hentikan kebiasaan menyalahkan orang lain. Ingatlah, kesempurnaan manusia justru terletak pada ketidaksempurnaannya. Hanya Tuhan yang sempurna. Saya menyukai apa yang dikemukakan Gerarld G Jampolsky dalam bukunya Forgiveness, The Greatest Healer of All.


”Rela memaafkan adalah jalan terpendek menuju Tuhan.”


Jadi kawan, seberat dan sefatal apapun kesalahan orang itu, cobalah untuk memaafkan. Memang memaafkan tidak semudah kita bernapas lewat hidung, tidak semudah kita membalikkan tangan. Mulailah dengan memaafkan dirimu sendiri. Kalau kamu bisa berkaca dan menemukan kesalahanmu di depan cermin itu, maafkan dirimu dulu baru memaafkan orang lain.

Beberapa hal yang dapat mendorongmu untuk tetap bertahan!!

Jika kau merasa lelah dan tak berdaya dari usaha yang sepertinya

sia-sia…

Tuhan tahu betapa keras engkau sudah berusaha.


Ketika kau sudah menangis sekian lama dan hatimu masih terasa pedih…

Tuhan sudah menghitung airmatamu.


Jika kau pikir bahwa hidupmu sedang menunggu sesuatu dan waktu serasa

berlalu begitu saja…

Tuhan sedang menunggu bersama denganmu.


Ketika kau merasa sendirian dan teman-temanmu terlalu sibuk untuk

menelepon.

Tuhan selalu berada disampingmu.


Ketika kau pikir bahwa kau sudah mencoba segalanya dan tidak tahu hendak

berbuat apa lagi… Tuhan punya jawabannya.


Ketika segala sesuatu menjadi tidak masuk akal dan kau merasa

tertekan…

Tuhan dapat menenangkanmu.


Jika tiba-tiba kau dapat melihat jejak-jejak harapan…

Tuhan sedang berbisik kepadamu.


Ketika segala sesuatu berjalan lancar dan kau merasa ingin mengucap

syukur..

Tuhan telah memberkatimu.


Ketika sesuatu yang indah terjadi dan kau dipenuhi ketakjuban.. .

Tuhan telah tersenyum padamu.


Ketika kau memiliki tujuan untuk dipenuhi dan mimpi untuk digenapi…

Tuhan sudah membuka matamu dan memanggilmu dengan namamu.


Ingat bahwa dimanapun kau atau kemanapun kau menghadap… TUHAN TAHU

Tuesday, April 12, 2011

My Comeback


Wow, it's been awhile, hasn't it? It was 2 years ago when I put pen on this blog. Lots of thing happened for sure. I lost my beloved aunty last 2009 and I lost my uncle last 2010. Uniquely, they both have the same birthday, December 9th. Love them, but sadly they left us already. But that just part of the story.


Picture on the left is my current "size" lol. I gained weight since the last time I wrote on this blog. That's why I look bigger hahaha... It happen to some people, because people do change. Either positively or negatively, but we do changed.



I've been working in some events in Bali. Started from UNFCCC in 2007, BABGOC 2008, etc as a freelancer. But I'm now officialy work in an event organizer called Saint Events. I don't know, but I found myself enjoy this job. People say, do what you love and love what you do. Basically, I'd love to work in any fields, but somehow I don't think I see my future in hotel industry.


Wew, starting to beat around the bush. Because I just want to share my comeback. So, that's it.


Ciao!!